Penjual Es Kebanjiran Berkah di Rumah Tua Penuh Sejarah

berita-compasnews.com

Beritakompas.com, Sampang - Sungguh indah jika kita bisa memaknai bulan Ramadhan ini dari beragam sudut pandang, namun dengan majunya peradaban semakin menutup ruang untuk mengamati tradisi-tradisi spiritual nenek moyang kita yang selayaknya kita rawat bersama. Jumat, (05/04/2024)

Menjelang magrib tiba jalanan padat, kota kecilpun seperti Sampang mengalami kemacetan, kerumunan muda-mudi sedang melaksanakan ritual ngabuburit. Pegiat komunitas saling berlomba-lomba mengejar identitas dengan cara bagi-bagi takjil di jalanan. Restoranpun penuh dengan orderan untuk melayani pelanggannya buka puasa bersama. Jangan harap mendapat kursi jika tidak memesannya jauh hari. Begitula peradaban.

Baca juga: Aba Niman dan SINTORA.NEWS Berbagi Berkah Ramadan: 500 Takjil, Santunan Yatim dan Sembako

Banyak lagi yang kian hilang tergantikan dengan tradisi-tradisi baru seiring jaman. Entah apakah fenomena ini dikatakan kemajuan atau kemunduran nilai, terlepas dari nilai ibadah apakah semakin bertambah atau berkurang.

Namun berbeda dengan apa yang dialami si penjual es ini, karena esnya laku keras kami tertarik untuk mewawancarainya tentang hal istimewa yang sepanjang bulan Ramadhan.

Beliau menceritakan ketika mendapatkan pesanan es dari seorang sahabatnya di sebuah perkumpulan majelis dzikir.

Baca juga: Jumat Kedua Ramadhan, SINTORA NEWS Salurkan 25 Paket Sembako untuk Warga Simokerto, Genteng, dan Semampir

Acara berlangsung sangat khidmat di rumah tua yang penuh dengan sejarah, konon rumah ini adalah kediaman Syaikh KH Ahmad Sirajuddin seorang khalifah Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah yang sangat tersohor.

“ Barangkali ini yang disebut berkah ramadhan, bukan karena dagangan saya laku, tetapi saya seperti ditarik ke masa lalu merayakan buka puasa dengan tradisi kuno nan islami. “ ungkapnya.

Menjelang magrib, acara dibuka dengan doa istighosah, bertafakur dengan alam lalu buka puasa dengan menu sederhana dan lanjut sholat tarawih.

Baca juga: Berkah Ramadhan 1447 H, Kampung Legon TikTok Desa Sumberjaya Diserbu Pemburu Takjil

“Selepas acara tersebut, saya seperti sedang di nasihati bahwa di Bulan yang suci ini mari kita sejenak memenjarakan hawa nafsu dan kembali mencoba merenungi segala yang ada dalam diri dan di sekitar.” tuturnya.

Kamipun tersinpirasi dari cerita si penjual es tersebut, berharap di sisa Ramadhan yang tinggal beberpa hari ini kami lebih fokus untuk ibadah.

(Taufik)

Editor : Badwi

Kriminal
Berita Populer
Berita Terbaru