Rabu, 08 Jul 2026 05:08 WIB

Akses RPH TOW Surabaya Dikepung Banjir, Pemindahan Pekerja RPH Pegirian Dinilai Terburu-buru dan Abaikan Keselamatan

Berita-compasnews.com, Surabaya – Rencana pemindahan tenaga kerja dari RPH Pegirian ke RPH TOW Surabaya kini menuai sorotan tajam. Pasalnya, akses utama menuju lokasi RPH baru tersebut dilaporkan kerap terendam banjir saat curah hujan tinggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius dari para pekerja yang menilai kebijakan pemindahan terkesan dipaksakan tanpa kesiapan infrastruktur yang memadai.

Viralnya video yang diunggah akun media sosial @KKAstuff pada Senin (16/2/2026) memperlihatkan genangan air setinggi selutut menguasai jalan sepanjang kurang lebih 7 hingga 8 kilometer. Dalam rekaman tersebut, sejumlah kendaraan tampak mogok dan arus lalu lintas tersendat. Bahkan, pengunggah video mengibaratkan kondisi jalan seperti “lautan” saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Kondisi ini dinilai bukan sekadar gangguan sementara, melainkan persoalan serius yang dapat menghambat aktivitas operasional rumah potong hewan. Distribusi hasil pemotongan, mobilitas pekerja, hingga pasokan hewan ternak berpotensi terganggu jika akses utama terus terendam setiap musim hujan.

Para pekerja di RPH Pegirian mempertanyakan urgensi pemindahan apabila persoalan mendasar seperti akses jalan belum dituntaskan. Mereka khawatir kebijakan tersebut justru menambah beban dan risiko kerja, terutama bagi jagal dan tenaga harian yang menggantungkan penghasilan dari kelancaran operasional setiap hari.

Fredy, koordinator tenaga kerja RPH Pegirian, menegaskan bahwa akses yang aman dan lancar merupakan kebutuhan utama, bukan sekadar fasilitas pelengkap. Menurutnya, sebelum relokasi benar-benar dilaksanakan, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan infrastruktur, khususnya sistem drainase dan penanganan banjir di jalur menuju RPH TOW Surabaya.

“Jangan sampai pekerja dipindahkan ke tempat yang justru menyulitkan aktivitas dan mengancam keselamatan. Kami butuh kepastian bahwa akses jalan benar-benar siap,” tegasnya.

Para pekerja mendesak dinas terkait dan pengelola RPH untuk tidak menutup mata terhadap fakta di lapangan. Mereka meminta adanya kajian teknis terbuka serta solusi konkret, bukan sekadar janji, agar operasional RPH ke depan tidak tersandera persoalan banjir yang berulang setiap musim hujan.

Relokasi yang seharusnya membawa perbaikan, jangan sampai berubah menjadi kebijakan yang tergesa-gesa dan minim perencanaan. Jika akses dasar saja belum terjamin, maka wajar bila publik mempertanyakan sejauh mana kesiapan pemerintah dalam memastikan keberlanjutan layanan dan perlindungan terhadap para pekerja.

Editor : Badwi