Rabu, 24 Jun 2026 18:19 WIB

Tradisi Remoh Sandur Kian Solid, Pro Suramadu Serahkan Dua Ambulans Gratis untuk Masyarakat

Berita-compasnews.com, Surabaya – Tradisi Remoh Sandur yang terus dilestarikan oleh masyarakat Madura kembali menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya yang tidak lekang oleh waktu. Lebih dari sekadar tradisi, kegiatan ini menjadi simbol kuatnya solidaritas, gotong royong, dan kepedulian sosial di tengah kehidupan modern, Senin (13/4/2026).

Remoh Sandur bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga wadah penguatan ekonomi berbasis komunitas. Dalam setiap pelaksanaannya, para peserta saling memberikan “bowohan” atau sumbangan kepada tuan rumah, yang nantinya akan kembali diterima saat mereka bergantian menjadi tuan rumah. Sistem ini mencerminkan nilai kebersamaan dan saling mendukung yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Madura.

Pada kesempatan kali ini, Haji Udin selaku Kepala Desa Meteng dipercaya menjadi tuan rumah. Momen istimewa pun tercipta saat dilakukan prosesi simbolis penyerahan dua unit ambulans hasil swadaya komunitas Pro Suramadu. Penyerahan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kekuatan tradisi mampu menghadirkan manfaat konkret bagi masyarakat luas.

Acara tersebut turut dihadiri oleh tokoh sesepuh, tokoh blater, serta masyarakat yang antusias menyaksikan peresmian yang ditandai dengan pemotongan pita. Bendera Pro Suramadu berkibar megah, menjadi simbol persatuan dan solidaritas warga Madura, khususnya yang berada di perantauan.

Suasana semakin semarak dengan nuansa budaya yang kental. Para tamu tampil mengenakan busana khas Madura seperti pesa’an dan udeng, mencerminkan identitas dan kebanggaan budaya. Pertunjukan Sandur menjadi daya tarik utama, menghadirkan hiburan tradisional yang unik, di mana seluruh penampil diperankan oleh laki-laki, termasuk penari lenggek yang tampil dengan busana perempuan dan menerima saweran dari para hadirin.

Ketua Persatuan Otok-Otok Surabaya Madura (Pro Suramadu), H. Syaiful Anam, menegaskan bahwa Remoh Sandur memiliki nilai sejarah yang panjang dan mendalam.

“Tradisi ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Remoh Sandur menjadi sarana komunikasi lintas elemen, mulai dari masyarakat hingga pemerintahan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa komunitas ini menjadi ruang berkumpulnya berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemuda, untuk bersama-sama mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Madura.

“Ini adalah wujud persatuan yang menyatu dengan seni dan budaya. Nilai-nilai kehidupan masyarakat Madura tercermin dalam setiap pelaksanaan Remoh Sandur,” tambahnya.

Dua unit ambulans yang diserahkan tersebut nantinya akan dioperasikan secara gratis, tidak hanya untuk anggota komunitas, tetapi juga untuk masyarakat umum yang membutuhkan. Hal ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial dan pelayanan kemanusiaan dari komunitas Pro Suramadu.

Selain itu, Remoh Sandur juga terbukti mampu mempererat hubungan masyarakat Madura dari berbagai daerah, seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, sekaligus menyatukan para perantau yang tinggal di Kota Surabaya.

Tradisi Remoh Sandur membuktikan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan sosial yang mampu membangun solidaritas, memperkuat ekonomi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya menjadi pengingat bahwa persaudaraan adalah fondasi utama dalam membangun komunitas yang kuat dan sejahtera.

Editor : Badwi