Minggu, 27 Sep 2026 16:28 WIB

Rakornas SPKS 2026: Petani Sawit Didorong Masuk Hilirisasi

JAKARTA, Berita-Compasnews.com – Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mendorong perubahan posisi petani sawit rakyat agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi mampu mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai melalui penguatan koperasi dan hilirisasi.

Dorongan tersebut menjadi salah satu agenda strategis dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) SPKS 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (25/9/2026). Forum ini mempertemukan unsur SPKS nasional dan daerah untuk mengevaluasi program sekaligus merumuskan arah perjuangan petani sawit rakyat ke depan.

Rakornas menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi petani, mulai dari produktivitas, keterbatasan akses pembiayaan dan teknologi, akses pasar hingga posisi tawar petani yang dinilai masih lemah dalam rantai pasok kelapa sawit.

Di tengah tuntutan industri terhadap keberlanjutan dan ketertelusuran, SPKS menilai penguatan organisasi petani menjadi semakin penting. Petani yang terorganisir dinilai memiliki ruang lebih besar untuk membangun kekuatan ekonomi secara kolektif.

Koperasi Tak Sekadar Administrasi, Salah satu perhatian utama Rakornas adalah penguatan koperasi sebagai instrumen ekonomi petani.

Koperasi didorong tidak berhenti sebagai lembaga administratif, tetapi berkembang menjadi badan usaha yang profesional, transparan dan demokratis serta mampu memberikan manfaat nyata kepada anggotanya.

Melalui koperasi, petani dapat mengonsolidasikan produksi, meningkatkan posisi tawar, memperluas akses pembiayaan dan pasar, memperoleh sarana produksi, meningkatkan kualitas hasil serta membangun sistem ketertelusuran rantai pasok.

Ketua SPKS Nasional Sabarudin menegaskan konsolidasi organisasi dari tingkat nasional hingga daerah diperlukan agar agenda perjuangan petani dapat diterjemahkan menjadi program nyata.

"Konsolidasi organisasi di tingkat nasional dan daerah diperlukan agar agenda perjuangan petani memiliki arah yang lebih kuat dan dapat diterjemahkan menjadi program nyata di tingkat lapangan," ujar Sabarudin saat menyampaikan refleksi program SPKS di hadapan peserta Rakornas.

Petani Mulai Didorong Masuk Hilirisasi

Selain koperasi, hilirisasi sawit rakyat menjadi agenda penting dalam Rakornas SPKS 2026.

Selama ini, sebagian besar petani masih berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku. Ke depan, melalui koperasi, petani didorong mengambil bagian dalam proses pengolahan, pengembangan produk turunan, pemasaran hingga penciptaan nilai tambah.

Langkah tersebut diharapkan membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai nilai industri kelapa sawit.

Namun, menurut Sabarudin, peningkatan nilai ekonomi harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan.

Produktivitas dan hilirisasi, kata dia, perlu didukung tata kelola perkebunan yang baik, perlindungan lingkungan, peningkatan kapasitas petani, pemenuhan standar keberlanjutan serta penguatan ketertelusuran.

Konsolidasi Nasional untuk Agenda Bersama, Rakornas SPKS 2026 juga menjadi ruang konsolidasi antarwilayah untuk menyatukan gagasan dan memperkuat kelembagaan organisasi.

Sejumlah agenda yang dibahas meliputi evaluasi pengorganisasian petani, penguatan kelembagaan SPKS, peningkatan kapasitas koperasi, kerja sama antardaerah, pengembangan hilirisasi sawit rakyat serta penyusunan rekomendasi dan rencana tindak lanjut organisasi.

Melalui konsolidasi tersebut, SPKS mendorong gerakan petani yang semakin terorganisir dan mampu menghadapi perubahan tata kelola serta tuntutan industri kelapa sawit secara kolektif.

Petani Harus Menjadi Subjek Pembangunan, Rakornas SPKS 2026 menempatkan petani sebagai subjek utama dalam pembangunan kelapa sawit rakyat.

Petani tidak semata dipandang sebagai pemasok bahan baku, tetapi sebagai pelaku ekonomi yang memiliki kepentingan langsung terhadap produksi, perdagangan, pengolahan dan penciptaan nilai tambah.

Pimpinan Sidang Pleno I Rakornas SPKS, Muhamad Ridwan, mengatakan penguatan organisasi, koperasi dan hilirisasi merupakan tiga agenda yang saling berkaitan.

"Organisasi menjadi basis konsolidasi, koperasi menjadi instrumen ekonomi kolektif, sementara hilirisasi menjadi ruang untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas manfaat ekonomi bagi petani," ujar Ridwan saat membuka sidang pleno.

Sementara itu, pada penutupan Rakornas, Sabarudin menegaskan arah baru sawit rakyat harus bertumpu pada petani yang terorganisir, koperasi yang semakin mandiri serta usaha sawit yang mampu menciptakan nilai tambah.

Ia juga menekankan pentingnya prinsip keberlanjutan dan keadilan bagi petani, termasuk kolaborasi dalam mendukung program ketahanan pangan.

"Kita sepakat agar menjadikan petani yang terorganisir, koperasi yang semakin mandiri, dan usaha sawit yang mampu menciptakan nilai tambah dengan tetap menjaga prinsip keberlanjutan dan keadilan bagi petani," pungkas Sabarudin saat menutup Rakornas SPKS ke-4 di Jakarta.

Rakornas tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret di tingkat nasional maupun daerah, sehingga koperasi dan petani sawit rakyat memiliki peran yang lebih kuat dalam menciptakan nilai tambah dari sektor perkebunan.

 

Penulis: Kusnadi

Korwil Kalimantan Barat

Berita-Compasnews.com – PT Umar Nurul Abadi

Editor : Kusnadi