Berita-compasnews.com,Landak,Kalbar//Di bawah rimbunnya sisa-sisa hutan yang masih terjaga di Desa Semade, berdiri sebuah situs suci yang menjadi saksi bisu sejarah panjang peradaban Dayak di wilayah Banyuke Hulu. Hari ini, Jumat (26/12), tim liputan berkesempatan mendalami sejarah Keramat Batu Mali melalui wawancara eksklusif bersama tokoh sentral setempat, Panglima Mian, SE., MM., yang juga merupakan Ketua Ormas Tambak Baya.
Mali: Bukan Mitos, Melainkan Pantangan dan Penjaga Alam
Panglima Mian menegaskan bahwa kata "Mali" berarti pantang atau tabu. Situs ini bukan sekadar cerita mitos, melainkan bukti nyata kearifan lokal dalam menjaga alam.
"Coba lihat di sekeliling, hutan-hutan sudah banyak yang habis. Hanya di area keramat ini hutan masih tersisa. Ini adalah bukti bahwa adat mampu menjaga alam," ujar beliau saat membuka percakapan.
Sejarah Sungai Sentona dan Perjalanan Spiritual
Sejarah situs ini bermula di masa lalu saat Sungai Sentona—yang mengalir hingga ke Landak—masih menjadi jalur transportasi utama masyarakat. Panglima menceritakan kisah seorang ibu yang sedang mencari daun di tepi sungai saat persiapan Gawai.
Ibu tersebut menemukan seekor anjing yang terus menggonggong ke arah batu yang ternyata merupakan singgasana kerajaan gaib lengkap dengan meriam-meriamnya.
Melalui ritual adat dan petuah sesepuh, terungkap bahwa batu tersebut adalah perwujudan dari perjalanan spiritual dari Katon Bawah menuju Keraton Ngabang. Perjalanan tersebut terhenti karena tidak bisa melewati Pedapuran Ria Mambang, sehingga menetaplah kekuatan tersebut di Desa Semade.
Tradisi Persembahan: Tanpa Alkohol, Tanpa Babi
Hingga detik ini, masyarakat Semade memegang teguh aturan unik dalam ritual Besamsam atau Berpinta di Batu Mali:
Persembahan: Hanya menggunakan ayam (Dilarang keras menggunakan anjing atau babi).
Minuman: Hanya diperbolehkan menggunakan teh, kopi, dan air putih (Dilarang membawa alkohol).
"Kami memiliki keramat sendiri, bukan di keramat orang lain. Maka tradisi ini kami jaga sesuai aturan aslinya," tegas Panglima Mian.
Beliau juga menunjukkan kepedulian pribadinya dengan membangun jalan akses menuju situs sepanjang 100 meter menggunakan dana pribadi, berdampingan dengan 400 meter pembangunan dari dana negara.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup sesi liputan, Panglima Mian memberikan pesan mendalam bagi pemuda-pemudi Dayak dan masyarakat umum di tengah kemajuan zaman.
"Apapun agama kalian, apapun pekerjaan, pangkat, dan pendidikan kalian, jangan pernah lupa bahwa karena leluhurmu kalian bisa pintar dan bisa maju seperti sekarang.
Hormatilah akar budayamu," pungkas Panglima Mian, SE., MM.
Kini, Keramat Batu Mali tidak hanya berdiri sebagai situs pemujaan, tetapi juga sebagai simbol identitas dan benteng terakhir kelestarian hutan di Desa Semade.
Editor : Kusnadi