Berita-compasnews.com, Banyuwangi — Kepadatan kendaraan berat kembali terpantau di jalur menuju Pelabuhan Penyeberangan ASDP Ketapang, Banyuwangi, Minggu (13/9/2026). Sejumlah kendaraan angkutan barang terlihat memadati ruas Jalan Gatot Subroto hingga kawasan Jalan Raya Situbondo, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, yang menjadi salah satu akses penting menuju kawasan pelabuhan.
Berdasarkan pantauan visual sekitar pukul 13.53 hingga 14.00 WIB, arus kendaraan didominasi truk dan kendaraan angkutan barang. Kepadatan tersebut membuat laju kendaraan di sejumlah titik berjalan lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Baca juga: Pekerja Mebel Warisan Banyuwangi Tewas Tersengat Listrik, Mbah Semar Soroti Penerapan K3
Situasi ini menjadi perhatian mengingat kawasan Ketapang merupakan salah satu simpul utama pergerakan kendaraan dan distribusi logistik Jawa–Bali. Peningkatan volume kendaraan berat dapat berdampak terhadap kelancaran lalu lintas apabila tidak diimbangi dengan manajemen antrean dan pengaturan kendaraan yang tepat.
Di sisi lain, dari sektor angkutan logistik Pelabuhan Tanjung Wangi, khususnya kendaraan dengan tujuan Gilimas–Lembar, kondisi hingga saat ini dilaporkan tetap terkendali dan aman.
Upaya antisipasi terhadap kepadatan terus dilakukan, termasuk melalui pengaturan kendaraan agar tidak seluruhnya menumpuk di ruas jalan utama. Kendaraan yang terdampak kepadatan arus logistik Jawa–Bali diupayakan masuk ke kantong-kantong atau lahan parkir yang telah disiapkan, sehingga pergerakan kendaraan dapat tetap tertata.
Kepadatan pada jalur logistik Jawa–Bali memang dapat memberikan imbas terhadap pergerakan kendaraan di sekitar kawasan pelabuhan. Namun, melalui pengaturan dan koordinasi di lapangan, arus angkutan dari Tanjung Wangi menuju Gilimas–Lembar tetap diupayakan berjalan lancar, aman dan terkendali.
Menanggapi kondisi tersebut, Selamet Solichin (Mbah Semar) meminta pihak ASDP Ketapang bersama seluruh pemangku kepentingan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola antrean dan pergerakan kendaraan berat di sekitar kawasan pelabuhan.
Menurutnya, persoalan kepadatan kendaraan yang berulang tidak semestinya hanya disikapi sebagai persoalan situasional setiap kali terjadi lonjakan volume kendaraan.
“Kami meminta ASDP Ketapang serius mengevaluasi persoalan ini. Kalau pola kepadatan terus berulang dari waktu ke waktu, berarti ada hal yang harus dibenahi secara menyeluruh. Jangan sampai setiap terjadi antrean baru dilakukan penanganan, kemudian persoalan yang sama kembali muncul,” tegas Mbah Semar.
Ia menekankan, kelancaran akses menuju pelabuhan memiliki dampak luas, bukan hanya bagi pengguna jasa penyeberangan, tetapi juga terhadap distribusi barang, aktivitas ekonomi, keselamatan pengguna jalan serta masyarakat yang tinggal di sekitar jalur Ketapang.
“Yang kami dorong bukan mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana persoalan ini mendapatkan solusi yang terukur dan berkelanjutan. ASDP perlu melihat secara komprehensif titik-titik yang menjadi sumber penumpukan kendaraan, kapasitas pelayanan, sistem antrean serta pola pengaturan kendaraan berat,” ujarnya.
Baca juga: Banyuwangi Menjadi Tuan Ruah Kejuaraan Paralayang Internasional
Mbah Semar juga mendorong koordinasi yang lebih kuat antara ASDP, kepolisian, Dinas Perhubungan, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder terkait dalam mengantisipasi kepadatan kendaraan di jalur menuju pelabuhan.
Menurutnya, diperlukan skema manajemen lalu lintas yang mampu menyesuaikan dengan fluktuasi volume kendaraan, khususnya kendaraan logistik.
“Ketika volume kendaraan meningkat, harus ada skenario yang jelas. Di mana kendaraan ditampung, bagaimana pola antreannya, bagaimana rekayasa arusnya, dan bagaimana memastikan kendaraan tidak menumpuk di ruas jalan umum. Semua itu harus dipersiapkan dan dikomunikasikan dengan baik,” kata Mbah Semar.
Selain kelancaran lalu lintas, kepadatan kendaraan berat juga harus dilihat dari aspek keselamatan.
Pengendara roda dua maupun kendaraan kecil yang melintas di antara kendaraan berat diimbau menjaga jarak aman, tidak melakukan manuver secara tiba-tiba serta menghindari upaya mendahului apabila kondisi tidak memungkinkan.
Mbah Semar menegaskan bahwa sorotan terhadap persoalan tersebut merupakan bagian dari kontrol sosial dan kepedulian terhadap kualitas pelayanan publik.
“Kami berharap kritik dan masukan dari masyarakat maupun media jangan dipandang sebagai serangan. Justru kondisi di lapangan harus menjadi bahan evaluasi. Kalau memang ada kekurangan, mari diperbaiki bersama. Persoalan yang terjadi berulang harus dicari akar masalahnya dan dicarikan solusi permanen,” tegasnya.
Ia juga berharap pihak ASDP dapat memberikan penjelasan kepada publik mengenai langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan dalam mengantisipasi kepadatan kendaraan berat di kawasan Ketapang.
Menurutnya, transparansi informasi penting agar masyarakat, pengguna jasa maupun pengemudi kendaraan logistik memahami kondisi serta pola pelayanan yang diterapkan.
“Pelabuhan Ketapang adalah salah satu gerbang penting Jawa–Bali. Karena itu, pelayanan harus terus ditingkatkan. Jangan sampai persoalan antrean kendaraan menjadi persoalan tahunan yang terus berulang tanpa penyelesaian yang fundamental,” pungkasnya.
Hingga berita ini disusun, berdasarkan pantauan visual, kepadatan kendaraan berat masih terlihat di sejumlah ruas sekitar Bulusan dan akses menuju kawasan Pelabuhan Ketapang. Belum terdapat keterangan resmi mengenai panjang antrean, volume kendaraan maupun penyebab spesifik kepadatan dari pihak ASDP pada saat berita ini ditulis.
Editor : Badwi