Berita-compasnews.com | JAKARTA, KALBAR — Aspirasi petani kelapa sawit dari Kabupaten Bengkayang dibawa ke tingkat nasional. Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Bengkayang, H. Heru Kamaruzzaman, menyuarakan penguatan reforma agraria dan koperasi perkebunan dalam Konferensi Nasional Perkebunan Rakyat II di Auditorium Kementerian Koperasi, Jakarta, 21–22 September 2026.
Konferensi nasional tersebut mengusung tema “Mewujudkan Perkebunan Sawit Rakyat Berkelanjutan Berbasis Reforma Agraria dan Koperasi Pekebun.” Forum ini menjadi ruang pembahasan berbagai persoalan strategis perkebunan rakyat, mulai dari reforma agraria, penguatan kelembagaan koperasi hingga keberlanjutan usaha petani sawit.
Heru menegaskan, kepentingan petani sawit tidak semestinya hanya diukur dari aspek produksi. Menurutnya, keberlanjutan perkebunan rakyat juga sangat bergantung pada kekuatan kelembagaan, kepastian akses terhadap lahan, peningkatan nilai tambah serta kebijakan yang berpihak pada keberlangsungan usaha petani.
«“Perjuangan petani sawit bukan hanya soal meningkatkan produksi. Petani juga membutuhkan kelembagaan yang kuat, kepastian akses terhadap lahan, peningkatan nilai ekonomi hasil perkebunan dan pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Heru, yang juga menjabat General Manager Koperasi Produsen Petani Berkah Sejahtera Bengkayang, melalui pesan WhatsApp kepada awak media, Senin (21/9/2026).»
Koperasi Dinilai Jadi Kunci Penguatan Petani, Heru menilai koperasi perkebunan memiliki posisi strategis dalam memperkuat daya tawar petani. Dengan kelembagaan koperasi yang sehat dan profesional, petani diharapkan mampu memperbaiki tata kelola produksi, mengembangkan usaha, sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi anggota.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah bagaimana petani memperoleh harga TBS yang lebih baik, sehingga peningkatan produksi benar-benar berujung pada peningkatan kesejahteraan pekebun.
Ia berharap Konferensi Nasional Perkebunan Rakyat II tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi mampu menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang dapat memperkuat posisi perkebunan rakyat.
Terlebih, kata Heru, masih banyak perkebunan rakyat yang bersinggungan dengan persoalan Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Karena itu, kebijakan penataan kawasan diharapkan tetap memperhatikan keberadaan dan keberlangsungan petani pekebun rakyat.
Dorong Ketahanan Pangan dan Energi, Selain memperjuangkan isu perkebunan sawit, Heru juga mendorong kolaborasi di sektor pertanian sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan energi berkelanjutan.
Saat ini, dirinya bersama pengurus dan manajemen Koperasi Produsen Petani Berkah Sejahtera Bengkayang tengah menjalankan program ketahanan pangan dan energi berkelanjutan dengan komoditas utama padi inbrida dan kelapa sawit, melalui kolaborasi bersama Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian RI.
Menurut Heru, penguatan sektor pertanian membutuhkan kerja bersama antara petani, organisasi petani, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
«“Perjuangan terhadap hak petani sawit harus berjalan seiring dengan upaya membangun ketahanan pangan pertanian yang produktif, mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.»
Aspirasi Bengkayang Dibawa ke Forum Nasional, Kehadiran SPKS Bengkayang dalam konferensi nasional tersebut menjadi momentum untuk membawa aspirasi petani daerah ke ruang kebijakan yang lebih luas.
Selain memperkuat jejaring dan kolaborasi, forum tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya mendorong arah kebijakan perkebunan rakyat yang memberikan kepastian, meningkatkan kesejahteraan serta menjamin keberlanjutan usaha petani.
Heru menekankan, penataan dan penertiban kawasan hutan harus dilaksanakan dengan kebijakan yang tepat dan berkeadilan, sehingga tujuan penertiban tidak justru berdampak pada hilangnya ruang usaha dan penghidupan petani sawit rakyat.
Kusnadi
Korwil Kalimantan Barat
Berita-Compasnews.com
Editor : Kusnadi