Berita-Kompas.com, MALANG - Perhatian publik terpanggil kembali setelah tersebarnya informasi melalui Postingan Tiktok Info Malang Raya pada tanggal 22 Februari 2024 terkait dugaan tindak Pidana Korupsi yang dilaporkan melibatkan Direktur Polinema. Namun, sorotan tidak hanya terfokus pada masalah hukum, tetapi juga mengarah pada sebuah fenomena yang mengejutkan, yakni keadaan gedung AC (Gedung Akuntansi) yang kini terbengkalai.
Sebelumnya, gedung tersebut telah direncanakan dan dibangun sejak tahun 2021, namun pada saat ini, kondisinya justru mangkrak tanpa perkembangan yang berarti.
Tahap awal pembangunan gedung dilaksanakan ketika Direktur Polinema masih dijabat oleh Drs. Awan Setiawan, MM., MMT. Pembangunan tahap pertama berhasil diselesaikan sesuai target yang ditentukan, namun situasinya mulai memburuk ketika kepemimpinan beralih kepada Direktur yang baru, Supriatna.
"Proyek tersebut terbengkalai karena keputusan sepihak dari pihak Direktur baru untuk memutus kontrak dengan pemenang tender. Hal ini terjadi meskipun kontraktor telah menerima pembayaran sebesar 70%, sementara progres bangunan baru mencapai 40�n tidak dilanjutkan," ungkap seorang narasumber yang enggan disebutkan identitasnya.
Langkah tanggap dari sejumlah LSM pun mulai terlihat, dimana mereka telah mengumpulkan data terkait masalah ini. Rencananya, akan diadakan rapat gabungan antar LSM di Kota Malang untuk membahas langkah selanjutnya, termasuk melaporkan kasus ini kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Kritik terhadap manajemen pembangunan gedung mangkrak ini tidak hanya datang dari kalangan netizen, tetapi juga dari berbagai pihak yang terkait secara langsung dengan keberlangsungan pembangunan dan administrasi Polinema. Hal ini menunjukkan bahwa masalah tersebut memiliki dampak yang luas dan perlu segera ditindaklanjuti dengan serius.
Sebagai salah satu institusi pendidikan yang diharapkan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, keadaan gedung yang terbengkalai ini tentu saja mencoreng reputasi Polinema. Tidak hanya sebagai tempat pembelajaran, namun juga sebagai lembaga yang seharusnya menjadi contoh dalam hal tata kelola dan pengelolaan proyek.
Dalam upaya menjaga integritas dan kepercayaan publik, pihak terkait di Polinema diharapkan untuk segera mengambil langkah-langkah tindakan yang tepat guna menyelesaikan permasalahan ini secara transparan dan akuntabel. Keseriusan dalam menangani kasus ini akan menjadi indikator penting bagi upaya Polinema dalam memperbaiki citra dan reputasi mereka di mata masyarakat dan dunia pendidikan.
(Reagan)
Editor : Reagan