Berita-Kompas.com, MALANG - Era kepemimpinan baru Direktur Supriyatna Adhisuwignjo ST, MT di Polinema (Politeknik Negeri Malang) menandai periode kemerosotan dan penurunan kualitas yang mencolok. Dulu dikenal sebagai salah satu dari tiga kampus terbaik se-Indonesia, Polinema kini tergelincir tidak masuk dalam daftar sepuluh besar pun. Pada saat yang sama, akreditasi institusi ini melorot dari peringkat tertinggi BAN-PT A menjadi hanya terakreditasi B.
Proyek mercusuar Gedung AC (Akuntansi), yang semula diharapkan menjadi landmark pendidikan unggulan, kini mangkrak menyisakan puing-puing beton yang terbengkalai. Dugaan korupsi muncul ketika pemeriksaan internal mengungkapkan adanya penyimpangan dalam alokasi dana proyek ini, menyisakan tanda tanya besar atas transparansi dan akuntabilitas manajemen kampus.
Direktur Supriyatna diduga kurang mampu mengelola institusi, terbukti dari berbagai masalah yang merajalela di seluruh kampus. Sementara mahasiswa terkatung-katung dalam situasi ini, kekhawatiran terbesar adalah penurunan kualitas pendidikan akibat akreditasi yang rendah. Sebaliknya, fokus Direktur tampaknya teralihkan pada mencari-cari kesalahan dosen daripada memajukan mutu Polinema.
"Kasus ini mengungkapkan kelemahan dalam tata kelola institusi pendidikan yang harus segera diatasi oleh pihak terkait. Perlindungan kepentingan mahasiswa dan keadilan dalam penggunaan dana publik harus menjadi prioritas utama." ujar salah seorang alumni yang tidak mau disebut namanya.
Kemunduran ini bukan hanya mengakibatkan kerugian finansial, tetapi juga merusak reputasi Polinema sebagai lembaga pendidikan unggulan. Adanya ketidakstabilan dan dugaan korupsi dapat mengancam kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan.
Meskipun skandal ini mengguncang, harapan tetap ada untuk perbaikan ke depannya. Dengan tindakan tepat dan komitmen kuat dari semua pihak terkait, Polinema dan lembaga pendidikan lainnya diharapkan dapat pulih dan bahkan menjadi lebih kuat dalam menghadapi tantangan masa depan.
Penegakan hukum yang tegas dan transparansi dalam investigasi diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan dan keadilan dalam penanganan kasus-kasus serupa di masa depan.
Skandal kepemimpinan yang rapuh di Polinema menyoroti urgensi reformasi dalam pengelolaan dan pengawasan lembaga pendidikan tinggi. Sudah menjadi rahasia umum ditubuh Polinema telah terjadi konflik internal yang sangat parah dan mendarah daging, tak terkecuali Supriatna sendiri.
Sejak di Pimpin Supriyatna, diduga banyak terjadi perang dingin dan saling menjatuhkan antar pejabat struktural maupun fungsional didalamnya. Diperlukan tindakan konkret dan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas pendidikan yang lebih baik bagi masa depan generasi bangsa.
(Reagan)
Editor : Reagan