Berita-compasnews.com, Sampang - Senang sekali karena kemarin tim jurnalis Media berkesempatan ngobrol santai tentang pengasuhan anak dengan bunda Nazlah Hasni via telepon. Beliau adalah penulis buku, dan praktisi parenting.
Jadi kemarin kami ngobrolin tentang bagaimana sih, cara efektif mengobrol dengan ABG. Tema tentang ABG ini menarik banget dan selalu jadi perhatian praktisi pendidikan. Sabtu (31/08/2024)
Tahu kan ya, ABG tuh, mau dibilang anak-anak, sudah bukan anak-anak, mau dibilang dewasa juga belum dewasa. Ya kan. Tepatnya sih mereka remaja awal, ya.
Menurut Bunda Nazlah Hasni, masa-masa ini merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa. Fase tersebut mengandung perubahan besar. Baik secara fisik, kognitif, dan psikososial.
Fase ini menjadi hal yang tak boleh orang tua lewatkan.
"Jangan salah, nalar kritis ABG itu udah terbentuk lho. Jalan banget itu," tegas perempuan alumni SMA 1 Sampang ini.
Makanya, ketika merasa ada yang informasi yang menurut mereka janggal, orang tua atau guru akan dikejar pertanyaan sampai didapat jawaban yang memuaskan. Memuaskan yang dimaksud adalah jawaban logis yang dapat diterima akal sehat. Bukan jawaban akal-akalan.
Kemampuan bahasa, komunikasi dan bersosialisasi juga sangat berkembang dibanding ketika masih anak-anak. Meskipun kadang diwarnai emosi yang naik turun karena perubahan hormonal.
Secara umum, ABG sudah bisa mengungkapkan pendapat, pikiran dan keinginan mereka dengan lancar pada orang lain.Mereka juga sudah paham arti persahabatan dan mulai menjalin pertemanan dengan sebayanya. Malah kadang-kadang, pada fase ini, ABG lebih mendengar kata temannya.
Secara fisik, perkembangan tinggi dan berat badannya mungkin ada yang sudah sama dengan orang dewasa. Dan yang perlu diingat, pada masa ini mereka juga mengalami masa akil baligh. Untuk anak perempuan sudah mengalami menstruasi, dan anak laki-laki mengalami mimpi basah.
Hal ini dapat menjadi indikator normalnya perkembangan hormonal dan organ reproduksi.
Jadi, mengingat pentingnya masa transisi ini, penting bagi orang tua untuk mensupport perkembangan dan pertumbuhan ABG, agar mereka tetap dapat tumbuh di koridor kebaikan.
Salah satu caranya adalah orang tua harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan ABG. Dengan terjalinnya komunikasi yang mesra antara ortu dan AbG maka akan terjalin kedekatan emosi. Ortu dapat memahami apa yang menjadi pendapat dan keinginan anak, begitu juga, ABG menjadi tak segan mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahannya pada orang tua.
Bunda Nazlah Hasni mengutip pernyataan Sayyidina Ali Bin Abi Tholib, berbicara dengan remaja, termasuk ABG atau remaja awal, adalah memposisikan mereka sebagai mitra. Sebagaimana mitra, maka anggap mereka sebagai sahabat, teman duduk yang asyik untuk mengobrol dua arahatau berdiskusi. Sebab perkembangan akal, mental dan bahasa ABG sudah mulai matang dan mereka suka jika pendapatnya didengar dan diapresiasi.
Di sinilah kuncinya. Jadi orang tua harus mau mendengarkan apa pun pendapat-pendapat atau cerita-cerita si ABG. Kemudian tanggapi pula dengan asyik, tulus sekaligus bijak, selayaknya sahabat. Boleh sambil ngobrol juga, sesekali dibarengi dengan phisical touch ringan semacam usapan lembut di rambut atau di punggung. ABG pasti suka itu.
"Kalau udah mesra gini, udah anggap kita sahabat dan ABG mau cerita ke kita, maka memasukkan pesan moral jadi lebih mudah." Pungkas Bunda 4 anak yang baru menyelesaikan studi Magister Psikologi di UMM dengan predikat Cumlaude ini.
Wah, ternyata begitu ya salah satu ikhtiyar dalam mengasuh anak ABG.
Oke terima kasih Bunda Nazlah Hasni atas sharingnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
(Taufik)
Editor : Badwi