Berita-compasnews.com_Bengkayang, Kalbar//Pasar malam yang digelar di halaman depan Kesatriaan Kompi Senapan C Yonif 641/Raider Bengkayang berlangsung meriah pada Kamis (25/9/2025). Suasana penuh gemerlap lampu dan keramaian pengunjung, dari anak-anak hingga orang dewasa, memenuhi area tersebut. Berbagai wahana hiburan disediakan, mulai dari permainan anak hingga lotre untuk orang dewasa.
Namun di balik kemeriahan itu, muncul sorotan tajam dari publik terkait lokasi penyelenggaraan pasar malam yang menggunakan fasilitas negara. Pertanyaan besar pun menggema: layakkah aset militer yang dibiayai dari APBN dijadikan arena hiburan komersial?
Sejumlah warga menilai, semestinya kegiatan hiburan rakyat seperti pasar malam ditempatkan di fasilitas publik yang memang sudah diperuntukkan, misalnya Lapangan BRC yang merupakan aset Pemerintah Kabupaten Bengkayang. Jika menggunakan aset pemda, tentu dapat memberikan kontribusi nyata berupa pendapatan asli daerah (PAD) yang mendukung pembangunan.
Selain itu, penyelenggaraan pasar malam di depan kompi juga berdampak pada ketertiban umum. Lalu lintas jalan di sekitar lokasi terganggu akibat parkir kendaraan yang memadati pinggir jalan. Hal ini menimbulkan keresahan bagi pengguna jalan lain.
“Kalau mau pasar malam ya silakan, tapi jangan di depan markas tentara. Ini kan fasilitas negara, harusnya dijaga, bukan untuk dagang. Pemerintah kabupaten juga rugi karena PAD tidak masuk,” ungkap seorang warga Bengkayang.
> Warga lain menegaskan, “Kalau pakai Lapangan BRC kan lebih tepat, terbuka untuk umum dan hasilnya jelas masuk kas daerah. Jadi rakyat juga merasa adil. Jangan sampai kesan muncul kalau markas tentara bisa disulap jadi tempat hiburan demi keuntungan segelintir orang.”
Publik pun semakin vokal mempertanyakan aturan dan kepatutan penggunaan fasilitas negara. Fasilitas militer adalah simbol kedaulatan sekaligus aset strategis yang dibiayai dari pajak rakyat. Maka, penggunaannya untuk kepentingan komersial dianggap melukai rasa keadilan publik dan berpotensi menurunkan wibawa institusi militer di mata masyarakat.
Bahkan, sebagian masyarakat mendesak agar pengawasan dari tingkat pusat, baik Kodam hingga TNI AD, turut dilakukan. Hal ini dinilai penting agar tidak terjadi pembiaran terhadap praktik pemanfaatan aset militer di luar fungsi utamanya.
Sorotan ini diarahkan kepada Komandan Kompi (Danki) Senapan C Yonif 641/Raider, selaku penanggung jawab satuan. Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak media belum berhasil melakukan konfirmasi langsung kepada Danki terkait dasar izin penggunaan area kesatrian untuk hiburan pasar malam.
Kemeriahan hiburan rakyat memang penting, tetapi jangan sampai mengaburkan tugas utama kesatrian militer sebagai penjaga kedaulatan negara. Karena di mata publik, pertanyaan kritis tetap menggantung: apakah aparat tegas menjaga kehormatan aset negara, atau justru membiarkan rakyat berspekulasi?
Editor : Kusnadi