Kamis, 25 Jun 2026 20:56 WIB

Siswa Telanjur Pulang, Penyaluran Makan Bergizi Gratis di SMKN 1 Sampang Gagal Total

Caption Foto: Merasa "Diprank", SMKN 1 Sampang Tolak Penyaluran Makan Bergizi Gratis
Caption Foto: Merasa "Diprank", SMKN 1 Sampang Tolak Penyaluran Makan Bergizi Gratis

Berita-compasnews.com || Sampang – Polemik penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Kali ini, pihak SMKN 1 Sampang yang berlokasi di Jalan Suhadak, Kelurahan Dalpenang, secara tegas menyatakan penolakan terhadap distribusi program tersebut pada Senin (16/3/2026), setelah merasa dipermainkan oleh pihak penyelenggara.

​Peristiwa ini bermula ketika ratusan siswa SMKN 1 Sampang telah bersiap sejak pagi hari dengan antusiasme tinggi untuk menerima jatah makan siang bergizi. Namun, hingga waktu yang dijanjikan tiba dan hari menjelang siang, distribusi MBG yang dinanti-nantikan tak kunjung menampakkan batang hidungnya di lingkungan sekolah.

​Kekecewaan pihak sekolah memuncak karena merasa koordinasi dari pihak penyalur sangat tidak profesional. Saat dikonfirmasi oleh tim media, perwakilan Kaspek SMKN 1 Sampang menyampaikan bahwa pihak sekolah merasa seolah-olah menjadi korban "prank" atau lelucon tidak lucu akibat ketidakpastian jadwal yang diberikan.

​"Sekolah merasa diprank. Kami diminta mengambil MBG jam 9 pagi, tapi ternyata tidak datang. Saat ditanyakan langsung kepada kepala sekolahnya kapan makanan itu sampai, mereka menjawab belum tahu kapan," ujar pihak Kaspek dengan nada kecewa saat memberikan keterangan kepada pers.

​Ketidakpastian ini menyebabkan para siswa harus menunggu dalam waktu yang cukup lama tanpa kejelasan. Karena kondisi yang tidak kondusif dan waktu belajar efektif yang hampir usai, pihak sekolah akhirnya mengambil keputusan untuk memulangkan seluruh siswa agar tidak terlantar di area sekolah.

​Segera setelah para siswa meninggalkan lokasi, pihak sekolah mengambil langkah drastis dengan menutup dan mengunci rapat pintu pagar sekolah. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus penegasan bahwa sekolah tidak lagi bersedia menerima distribusi makanan untuk hari itu karena jadwal yang sudah sangat terlambat.

​Insiden ini meninggalkan kekecewaan mendalam bagi para siswa yang sebelumnya menaruh harapan besar pada program nasional ini. Pihak sekolah sangat menyayangkan lemahnya manajemen distribusi dan berharap ke depan koordinasi penyaluran dapat dilakukan dengan lebih jelas serta tepat waktu guna menghindari kejadian serupa.

Perbedaan keterangan mencolok muncul terkait jadwal pengiriman SPPG di SMKN 1 Sampang. Pemilik SPPG, Haji Romli, mengklarifikasi melalui pesan WhatsApp bahwa insiden tersebut murni disebabkan oleh miskomunikasi jadwal, di mana pengiriman yang biasanya dilakukan hari Selasa (17/03) justru dimajukan menjadi hari Senin. Atas ketidaksinkronan jadwal ini, pihak pemilik SPPG menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pihak-pihak terkait yang merasa dirugikan.

​Namun, pembelaan tersebut berbanding terbalik dengan fakta yang ditemukan di lapangan. Para murid SMKN 1 Sampang ternyata telah mendapatkan informasi dari pihak sekolah sejak Minggu malam bahwa hari Senin akan ada agenda penting di sekolah. Ketidaksinkronan antara alasan "miskomunikasi mendadak" dari penyedia jasa dengan kesiapan pihak sekolah yang sudah terencana sejak malam sebelumnya ini memicu tanda tanya besar mengenai transparansi koordinasi dalam distribusi kebutuhan di lingkungan pendidikan tersebut.

Editor : Taufik