Berita-compasnews.com || Sampang – Pemerintah Kabupaten Sampang kembali menghidupkan semangat tradisi lokal dengan menggelar ajang bergengsi Parade Combodug 2026. Ribuan pasang mata memadati sepanjang rute protokol Kota Sampang untuk menyaksikan kemeriahan yang berhasil menyedot perhatian publik tersebut. Kegiatan ini menjadi magnet tahunan yang mempertegas identitas budaya Madura di tengah arus modernisasi.
Acara yang berlangsung meriah pada Sabtu malam, 28 Maret 2026 ini mengusung tema besar "Atellasene Sampang 2026". Parade ini merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Dumalem Sampang Jilid 5. Agenda rutin tersebut sengaja digelar di penghujung bulan suci Ramadan sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus melestarikan musik perkusi tradisional.
Kehadiran jajaran pimpinan daerah di panggung utama menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap kreativitas masyarakat. Bupati Sampang didampingi Sekretaris Daerah secara resmi melepas peserta pertama dengan pengibaran bendera start. Dalam sambutannya, Bupati menekankan bahwa ajang ini adalah panggung bagi seniman lokal untuk membuktikan bahwa seni tradisional mampu bersaing di kancah yang lebih luas.
Kemeriahan tahun ini semakin terasa dengan aksi para peserta yang unjuk kebolehan memainkan aransemen musik dinamis. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah Kelompok Lanceng Pekalongan "Terak Bulan" di bawah pimpinan Ahmad Beijuri. Dengan dentuman perkusi yang harmonis dan koreografi energik, mereka berhasil memukau penonton sejak awal pemberangkatan dari titik start.
Koordinator Daol Dugdug Lanceng Pekalongan, Ahmad Beijuri, menjelaskan bahwa penampilan timnya kali ini merupakan hasil dari latihan intensif selama berminggu-minggu. Ia membeberkan bahwa aransemen yang dibawakan berusaha mengawinkan ritme tradisional Dugdug yang khas dengan sentuhan kontemporer. Inovasi ini dianggap penting agar musik perkusi tetap relevan dan menarik minat generasi milenial.
Pria yang akrab disapa Mas Bai tersebut mengungkapkan bahwa persiapan teknis timnya tidak hanya berfokus pada kualitas suara. Estetika dekorasi kendaraan parade juga menjadi perhatian utama untuk menciptakan keselarasan antara visual dan auditori. "Setiap ketukan drum dan simbal adalah representasi kegembiraan masyarakat Sampang dalam menyambut hari kemenangan yang suci," ujar Mas Bai di sela-sela kepadatan acara.
Lebih lanjut, Mas Bai berharap agar Parade Daol Dugdug ini dapat terus dilaksanakan secara konsisten setiap tahun dengan skala yang lebih besar. Ia bermimpi tradisi "Atellasene" suatu saat nanti dapat diakui secara nasional maupun internasional sebagai destinasi wisata budaya unggulan. Baginya, dukungan berkelanjutan dari pemerintah adalah kunci utama bagi para perajin seni untuk terus berkarya.
Pemerintah Kabupaten Sampang sendiri menargetkan sektor pariwisata daerah dapat terdongkrak signifikan melalui event ini. Dengan menjadikan tradisi "Atellasene" sebagai identitas budaya yang membanggakan, pemerintah optimis dapat menarik lebih banyak kunjungan wisatawan di masa depan. Hal ini sekaligus memastikan nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang
Editor : Taufik