Kamis, 25 Jun 2026 15:07 WIB

Diduga Terseret Kasus Pelecehan dan Tindak Kekerasan Seksual, Oknum Ketua PCNU Kraksaan Presiden GAPKM Angkat Bicara

Berita-compasnews.com, Probolinggo - Jagat media sosial beberapa waktu terakhir diguncang viralnya pengakuan seorang perempuan asal Bondowoso yang diduga menjadi korban pelecehan dan tindak kekerasan seksual oleh seorang figur publik berinisial “NH”, yang disebut-sebut merupakan oknum Ketua PCNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo sekaligus pimpinan sebuah majelis sholawat Syubbanul Muslimin Kasus yang beredar luas di TikTok itu memantik gelombang reaksi keras masyarakat karena menyangkut tokoh agama dan panutan publik.

Sorotan tajam datang dari Presiden GAPKM, Juned ST. Ia menilai dugaan kasus tersebut bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan menyentuh marwah organisasi keagamaan, pondok pesantren, hingga kepercayaan umat terhadap figur pemimpin spiritual. Menurutnya, jika dugaan itu benar terjadi, maka publik pantas kecewa karena sosok yang seharusnya menjadi teladan justru diduga mencoreng nama baik organisasi besar di Nusantara.

“Kalau benar terjadi, ini sangat memalukan. Tokoh agama itu harus menjadi contoh akhlak dan moral, bukan malah diduga melakukan tindakan yang merusak kehormatan perempuan. Jangan jadikan majelis sholawat sebagai tameng pencitraan,” ujar Juned ST.

Ia juga meminta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama serta seluruh elemen NU yang akan menghadapi agenda muktamar agar lebih selektif memilih pengurus. Menurutnya, pemimpin organisasi tidak boleh dipilih hanya karena faktor keturunan, kedekatan, atau popularitas semata, tetapi harus memiliki integritas moral, kapasitas kepemimpinan, ilmu, dan loyalitas terhadap marwah organisasi.

“Kami meminta PBNU segera mengambil langkah tegas dan memecat tidak hormat oknum tersebut apabila terbukti. Jangan asal pilih pemimpin berdasarkan nasab. Organisasi sebesar NU harus dijaga kehormatannya,” tegasnya.

Juned juga melontarkan kritik keras terhadap fenomena kultus individu di sebagian majelis keagamaan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membabi buta membela figur yang diduga melakukan perbuatan tercela hanya karena dianggap guru atau tokoh agama. Menurutnya, penghormatan kepada ulama tidak boleh menghilangkan akal sehat dan keberanian membela kebenaran.

“Sholawatnya silakan didukung karena itu syiar yang baik. Tapi kalau pimpinan majelis diduga berbuat keji dan mungkar, jangan diikuti. Jangan membela hanya karena dianggap guru. Guru juga manusia, bisa salah. Katakan kebenaran walau pahit agar masyarakat bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil,” Tandasnya,24/5/2026.

Ia bahkan berharap masyarakat melakukan evaluasi moral terhadap figur publik yang selama ini dielu-elukan. Menurutnya, jangan sampai nama Nabi Muhammad SAW digunakan sebagai kendaraan mencari popularitas, jabatan, maupun kekayaan pribadi di tengah tingginya kepercayaan umat terhadap majelis sholawat sedangkan masyarakat masih banyak sengsara.

Kasus yang viral di media sosial itu sendiri hingga kini terus menjadi perbincangan publik. Warganet ramai memperdebatkan dugaan hubungan antara korban dan oknum tokoh tersebut. Namun di tengah derasnya opini publik, sejumlah pihak mengingatkan pentingnya asas praduga tak bersalah dan proses hukum yang objektif agar perkara tidak berhenti hanya sebagai konsumsi media sosial.

Presiden GAPKM juga menyayangkan apabila korban hanya menyampaikan pengakuan melalui TikTok tanpa menempuh jalur hukum resmi. Ia meminta perempuan yang merasa menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual segera melapor ke aparat penegak hukum agar mendapat perlindungan undang-undang sekaligus membuka ruang pembuktian secara terang dan Kami siap mendampingi pihak korban .

“Korban jangan takut melapor ke polisi. Negara hadir melindungi korban kekerasan seksual. Jangan hanya viral di media sosial lalu selesai tanpa proses hukum. Kasus seperti ini harus dibawa ke jalur hukum agar jelas dan menjadi pelajaran bagi semua pihak dan Kami bersedia mendampingi pihak korban  bila membutuhkan bantuan hukum ,” Pungkasnya.

Editor : Badwi