Berita-compasnews.com, Kayong Utara - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang selama ini menyelimuti wilayah Simpang Hilir belum benar-benar hilang. Kini, warga Desa Lubuk Batu harus menghadapi masalah lingkungan yang tak kalah serius: Sungai Alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka, berubah warna menjadi hitam pekat dan berminyak. Selasa (20/10/2026).
Selama puluhan tahun, Sungai Alam menjadi kebanggaan warga. Di musim kemarau, saat sumber air lain mengering, sungai ini tetap mengalir jernih. Warga menggunakannya untuk mandi, mencuci, bahkan airnya langsung diminum tanpa diolah terlebih dahulu. Namun dalam beberapa waktu terakhir, wajah sungai itu berubah total. Airnya keruh, berwarna hitam pekat, berbau menyengat, dan di permukaannya terlihat lapisan minyak yang mengapung.
Warga menduga kuat pencemaran ini berasal dari dua perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut, yaitu PT Cus dan PT Jalin Vaneo. Diduga, air limbah dari kegiatan kedua perusahaan tersebut dialirkan langsung ke aliran sungai tanpa melalui pengolahan yang layak.
"Sungai ini satu-satunya harapan kami saat musim kemarau. Sekarang bagaimana kami bisa mandi atau mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari?" ungkap seorang warga yang enggan namanya disebutkan.
Kekhawatiran warga semakin bertambah karena mereka tidak tahu pasti kandungan zat berbahaya yang ada di dalam air tersebut. Belum ada pengecekan resmi dari pihak berwenang. Namun perubahan fisik air yang terlihat jelas sudah cukup membuat warga takut untuk menggunakannya.
Warga Minta Pemerintah Tidak Diam Saja
Warga meminta Pemerintah Kabupaten Kayong Utara melalui Dinas Lingkungan Hidup, maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, segera menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan mengambil langkah penanganan yang tegas.
"Kepada pemerintah, jangan hanya diam. Kalian yang memberikan izin usaha kepada perusahaan-perusahaan ini, kalian juga yang menerima pajak dari mereka. Tapi lihatlah, justru kami warga lokal yang menanggung penderitaannya. Lingkungan kami rusak, sumber air kami tercemar," tegas warga tersebut.
Warga berharap ini bukan sekadar keluhan yang lewat begitu saja. Mereka ingin ada tindakan nyata: penelusuran sumber pencemaran, penindakan sesuai hukum yang berlaku, dan pemulihan kualitas air Sungai Alam agar bisa kembali digunakan seperti sedia kala.
"Sungai ini bukan milik perusahaan saja. Ini warisan leluhur kami, sumber kehidupan anak cucu kami. Jangan sampai hilang begitu saja karena kelalaian yang tidak pernah diminta oleh kami."
Editor : Badwi