Berita-compasnews.com, Probolinggo – Aroma busuk korupsi kembali menebar, kali ini dari balik wangi dapur yang katanya “untuk gizi rakyat”. Program Dapur Gizi MBG kini jadi sorotan panas setelah muncul dugaan kuat bahwa bisnis tersebut didirikan dan dibiayai oleh para tersangka kasus korupsi dana hibah Jawa Timur .
Desakan agar KPK segera turun ke Kabupaten Probolinggo kian bergema. Sejumlah aktivis dan penggiat antikorupsi menilai, para tersangka kasus hibah itu diduga telah menyiapkan ladang bisnis sebelum ditangkap dan menjadi sebagai tersangka, seolah tahu badai akan datang dan menyiapkan tempat berlindung dari uang hasil korupsi.
Baca juga: Banjir Perdana Guncang Kraksaan, Presiden GAPKM Soroti Kesiapan Pemerintah Kabupaten Probolinggo
“Kami punya bukti ! Para tersangka ini diduga sudah menyiapkan bisnis dapur gizi sebelum ditahan. Diantaranya yang diduga kuat adalah Mahrus yang memiliki dua Dapur MBG yang terletak di lokasi Pajarakan dan Paiton dan Anwar Sadad yang menjabat anggota DPR RI juga punya dua MBG yang terletak di Mojolegi, Gading dan Pakuniran. Pertanyaannya sederhana tapi mematikan , dari mana modalnya? Dari keringat sendiri atau dari uang rakyat yang mereka sedot lewat program hibah?”, Tegas Presiden G APKM, Juned ST, 10/10/2025.
Program MBG di atas kertas memang mulia, seolah berjiwa sosial dan peduli gizi masyarakat. Tapi jika uang yang dipakai berasal dari hasil korupsi, maka semua kemanusiaan itu hanyalah kamuflase topeng suci yang menutupi wajah rakus. Bila benar, maka ini masuk kategori Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang keji.
“Kami akan bersurat resmi ke BGN. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka sudah tersangka tapi masih menikmati uang rakyat, bebas berkeliaran sambil tersenyum di atas penderitaan publik,” Ujar Juned geram.
Baca juga: Petani Menjerit, DKUPP Malah Diskusi Harga Tembakau Paiton Rontok, Negara Seolah Cuci Tangan
Tak hanya itu, diduga pula bahwa sebuah Innova Reborn milik tersangka Mahrus yang saat ini sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur membeli tahun 2021 dijual seharga Rp310 juta, yang disebut-sebut terkait dengan lingkaran yang sama. Potongan puzzle kecil, tapi mungkin kunci besar untuk membuka aliran dana gelap yang bersembunyi di balik dapur gizi ini.
Presiden GAPKM, Juned ST, angkat suara dengan komentar yang tajam dan menggigit ,
“Kalau ini benar, maka ini bukan cuma korupsi ini penghinaan terhadap akal sehat bangsa! Mereka mencuci dosa dengan dalih kemanusiaan, menutupi kerakusan dengan slogan sosial. Dapur gizi apa ini kalau bahannya dari uang rakyat? Ini bukan dapur gizi, tapi dapur dosa! KPK jangan tidur, bongkar sampai ke akar-akarnya!”
Baca juga: Tingkatkan Harmoni Umat, Kemenag dan FKUB Probolinggo Konsolidasi Program
Juned ST menegaskan bahwa GAPKM siap membuka data dan membantu KPK dalam penelusuran kasus ini.
“Kami tidak akan diam. Jangan biarkan uang hibah rakyat berubah jadi alat bisnis pribadi. Bila dibiarkan, negeri ini bukan hanya miskin gizi tapi juga miskin moral,” Tambahnya dengan nada menyayat.
Bola panas ada di tangan KPK agar lembaga antirasuah bergerak cepat menelusuri jejak dana 2019–2022 yang diduga disulap jadi bisnis “amal”. Publik harus menelan pil pahit jika di negeri ini, yang bersalah justru paling pandai bersembunyi di balik kata kemanusiaan.
Editor : Badwi