Rabu, 24 Jun 2026 21:42 WIB

Banjir Perdana Guncang Kraksaan, Presiden GAPKM Soroti Kesiapan Pemerintah Kabupaten Probolinggo

Berita-compasnews.com, Probolinggo – Hujan deras yang mengguyur wilayah ibu kota Kabupaten Probolinggo pada Sabtu malam (22/2/2026) menjadi peristiwa yang tak biasa bagi warga Kraksaan. Air datang tanpa aba-aba, menggenangi jalan utama, merembes ke rumah-rumah warga, serta melumpuhkan aktivitas di pusat kota. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah tersendiri, karena untuk pertama kalinya Kraksaan dilanda banjir dengan dampak signifikan.

Banjir yang meluas hingga sejumlah titik di wilayah Probolinggo bagian timur ini memunculkan kekhawatiran baru. Wilayah yang selama ini relatif aman dari genangan, kini ikut merasakan dampak yang sebelumnya lebih sering terjadi di kawasan barat Kabupaten Probolinggo.

Presiden GAPKM, Juned ST, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Ia menilai banjir di Kraksaan bukan sekadar bencana musiman, melainkan sinyal kuat bahwa ada persoalan lingkungan dan tata kelola yang harus segera dibenahi.

“Baru sekarang Kraksaan mengalami banjir. Sebelumnya tidak pernah terjadi. Ini pertanda apa?” ujarnya, mempertanyakan kesiapan serta langkah mitigasi dari pemerintah daerah.

Juned juga menyinggung harapan besar masyarakat terhadap Pemerintahan SAE Kabupaten Probolinggo yang mendapat dukungan luas saat Pilkada. Menurutnya, kepercayaan publik tersebut semestinya menjadi modal kuat untuk menghadirkan solusi cepat dan terukur dalam menghadapi persoalan daerah.

“Harapan indah masyarakat jangan sampai hanya menjadi kenangan yang berlalu,” tegasnya.

Ia menilai, pengalaman banjir di wilayah barat beberapa waktu lalu seharusnya menjadi pelajaran berharga. Mitigasi tidak cukup berhenti pada wacana atau laporan administratif. Ketika wilayah barat telah terdampak, antisipasi di wilayah timur seharusnya sudah disiapkan. Namun realitas di lapangan menunjukkan air datang lebih cepat dibanding kesiapan.

Di sejumlah titik seperti Sumber Centeng, infrastruktur dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, bahkan terdapat ruas jalan yang ambruk. Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi daerah. Aktivitas perdagangan tersendat, distribusi barang terganggu, dan kepercayaan investor dikhawatirkan ikut menurun jika persoalan infrastruktur serta pengendalian banjir tidak segera ditangani secara serius dan menyeluruh.

Juned ST menambahkan, banjir di Kabupaten Probolinggo tercatat sudah terjadi hingga dua kali dalam periode terakhir. Namun, menurutnya, belum terlihat gebrakan konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa penanganan yang hanya mengandalkan anggaran pusat atau terbatas pada kemampuan fiskal daerah tanpa langkah strategis di lapangan berisiko melahirkan program yang bersifat konseptual semata.

“Masyarakat butuh tindakan nyata dan percepatan, bukan sekadar rencana di atas kertas,” ujarnya.

Meski menyampaikan kritik tajam, Juned tetap memberikan apresiasi terhadap langkah awal yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama OPD terkait. Ia berharap ke depan pemerintah mampu lebih sigap membaca potensi risiko, memperkuat sistem drainase, menata tata ruang secara berkelanjutan, serta membangun sistem mitigasi berbasis pencegahan.

Banjir di Kraksaan kini bukan sekadar genangan air. Ia menjadi cermin atas kesiapan daerah menghadapi perubahan lingkungan dan cuaca ekstrem. Ketika air surut, yang tersisa bukan hanya lumpur, tetapi juga pertanyaan publik tentang seberapa cepat pemerintah mampu menjawab kegelisahan warganya.

Masyarakat tentu berharap, jika hujan deras kembali turun di masa mendatang, yang datang bukan lagi kepanikan dan kerugian, melainkan bukti bahwa Kabupaten Probolinggo telah belajar dan berbenah.

Editor : Badwi