Berita-compasnews.com || Sampang – Dunia pendidikan di Kabupaten Sampang tengah berduka sekaligus geram menyusul aksi pengeroyokan brutal yang menimpa Ustadz (AR), seorang tenaga pendidik di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Dusun Manggar, Desa Pajeruan. Minggu (08/2/2026)
Korban yang sedang menjalankan pengabdiannya sebagai "Guru Tugas" menjadi sasaran kekerasan oleh dua orang pelaku bersenjata tajam celurit, sebuah tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan di wilayah berjuluk Kota Santri.
Baca juga: Diduga “Ditenggelamkan”, Korban Pengeroyokan di Fafinesu B Desak Evaluasi Polda NTT dan Polres TTU
Peristiwa memilukan ini memicu reaksi keras dari lintas generasi santri dan alumni pondok pesantren di Sampang. Kabar mengenai kondisi Ustadz AR yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan luka fisik akibat serangan senjata tajam telah menyebar cepat, menciptakan gelombang empati dan dukungan moral bagi sang guru yang dikenal santun dan taat pada kiai tersebut.
Respons cepat diperlihatkan oleh jajaran kepolisian dalam menangani kasus ini. Di bawah komando Kapolres Sampang AKBP Hartono dan Kasatreskrim Iptu Fajri Alim, Polres Sampang berhasil meringkus dua pelaku pengeroyokan dalam waktu singkat. Penangkapan cepat ini mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat dan alumni pesantren yang mengawal ketat proses penegakan hukum demi terjaganya marwah guru.
Meski tubuhnya didera rasa sakit yang hebat, dedikasi Ustadz AR sebagai pendidik tak luntur sedikit pun. Di sela tarikan napasnya yang berat di ruang perawatan, ia dilaporkan masih sempat menanyakan kondisi murid-muridnya di kelas. Hal ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan cinta seorang guru terhadap ilmu dan anak didik, meski raga sedang berada dalam titik terendah.
Baca juga: Aniaya WNA Rusia Polda Bali Amankan Empat Pelaku di NTB
Solidaritas dari rekan sejawat dan sesama alumni pondok pesantren terus mengalir. Sebut aja MH, salah satu rekan alumni pondok ,menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap guru adalah pelanggaran berat terhadap adab dan norma agama. "mengingatkan kembali pesan leluhur pesantren bahwa barang siapa yang tidak menghormati guru, maka keberkahan ilmunya akan hilang, dan menyakiti guru berarti memutus tali silaturrahmi dengan Sang Pencipta."tegasnya.
Perwakilan alumni lintas generasi menyatakan komitmennya untuk terus mengawal kasus ini hingga ke meja hijau. Mereka menuntut agar proses hukum berjalan adil dan transparan sebagai efek jera agar kejadian serupa tidak lagi terulang, baik di lingkungan sekolah maupun di sudut-sudut desa lainnya di Kabupaten Sampang yang dikenal menjunjung tinggi akhlak.
Masyarakat berharap agar pesantren sebagai simpul peradaban tetap menjadi pelita yang menerangi hati dan menuntun perilaku beradab di Sampang. Melalui doa bersama, para santri memohon kesembuhan total bagi Ustadz AR agar ia dapat segera kembali ke depan kelas, menyapa murid-murid yang telah lama merindukan sentuhan ilmu dan kasih sayangnya.
Kini, fokus utama bagi keluarga besar alumni adalah memastikan proses pemulihan Ustadz AR berjalan lancar tanpa beban pikiran. Dengan tertangkapnya para pelaku, diharapkan rasa aman kembali hadir di tengah masyarakat pendidikan, sembari memastikan bahwa keadilan tetap tegak bagi mereka yang telah mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi bangsa.
Editor : Taufik