Berita-compasnews.com, Probolinggo — Di balik spanduk megah dan meja rapat yang tersusun rapi, tersimpan cerita lain yang tak ikut difoto. Klaim harga tembakau Probolinggo yang disebut “stabil” dalam forum resmi justru berseberangan dengan denyut di ladang. Di sana, petani menatap daun tembakau seperti menatap nasib, kering, rapuh, dan penuh tanda tanya.
Di lapangan, harga bergerak tak tentu arah. Hari ini diterima, esok ditolak. Alasan klasik soal kualitas kerap berubah-ubah, seolah standar mutu adalah karet yang bisa ditarik sesuka kepentingan. Stabilitas yang digembar-gemborkan pun terasa elitis nyaman di atas panggung, pahit di bawah terik matahari.
Investigasi singkat menemukan jurang lebar antara narasi resmi dan fakta lapangan. Mekanisme penentuan harga berlangsung tertutup, tanpa acuan baku yang mudah diakses petani. Transparansi terdengar nyaring di ruang rapat, tapi memudar saat berhadapan dengan timbangan dan grading di gudang.
Forum koordinasi yang dielu-elukan sebagai kolaborasi dahsyat justru dipertanyakan substansinya. Tanpa regulasi tegas dan pengawasan nyata, koordinasi berpotensi berubah menjadi legitimasi sepihak. Petani kembali berada di posisi terlemah menunggu keputusan, bukan ikut menentukan.
Keluhan petani beredar senyap, dari mulut ke mulut, seperti desis angin di sela daun. Tidak ada data terbuka yang menjelaskan disparitas harga antarwilayah dan waktu. Yang ada hanya kesaksian berulang tentang harga jatuh dan kualitas yang dipatahkan sepihak.
Presiden GAPKM, Juned ST, mendesak agar pemerintah daerah tak berhenti pada seremoni. Petani meminta payung aturan ,standar kualitas yang jelas, harga minimum yang melindungi, serta sanksi tegas bagi praktik yang merugikan. Retorika dianggap usang, kepastian adalah kebutuhan mendesak,1/1/2026
Sebab stabilitas sejati tak lahir dari klaim, melainkan dari keadilan di ladang. Jika suara petani terus diabaikan, maka istilah “harga stabil” hanya akan menjadi ironi indah di judul, getir di kenyataan, dan berulang setiap musim tanpa pernah benar-benar selesai.
Redaksi
Editor : Badwi