Berita-compasnews.com || Sampang – Di tengah ancaman kerusakan lingkungan yang kian nyata seperti abrasi pesisir dan cuaca ekstrem, Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Kabupaten Sampang melakukan aksi nyata dengan menanam ratusan bibit pohon di Desa Panyirangan, Kecamatan Pangarengan, Selasa (28/4/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya konkret untuk memulihkan keseimbangan alam sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab kolektif yang tidak bisa ditunda lagi.
Pj Kepala Desa Panyirangan, ACH Musyafik, memberikan apresiasi mendalam atas inisiatif ini dan menegaskan bahwa pihak desa harus mengambil peran aktif sebagai garda terdepan dalam pelestarian lingkungan. Menurutnya, kolaborasi antara ULD-PB, masyarakat, Linmas, dan BPBD menjadi bukti bahwa sinergi lintas elemen adalah kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang mulai berdampak pada daya tahan desa.
“Terima kasih buat teman-teman ULD-PB, ini bukan kegiatan seremonial. Ini peringatan keras bahwa desa harus berdiri di garis depan menjaga alamnya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?” kata ACH Musyafik saat memberikan sambutan di lokasi penanaman.
Sekretaris ULD-PB Kabupaten Sampang, Aang Djunaidi, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengejar peringatan tahunan, melainkan sebuah bentuk perlawanan terhadap sikap acuh tak acuh terhadap alam. Ia menekankan bahwa setiap lubang yang digali merupakan simbol harapan agar generasi mendatang tidak hanya mewarisi cerita tentang kerusakan, tetapi juga dapat menikmati kesejukan alam yang terjaga.
“Jangan tunggu Hari Bumi untuk peduli. Kalau hari ini kita diam, besok kita hanya akan mewarisi kerusakan kepada anak cucu kita,” ungkap Aang Djunaidi di sela-sela proses penanaman bibit.
Aang juga menyampaikan bahwa keterbatasan fisik yang dimiliki oleh anggota ULD-PB tidak menjadi penghalang untuk bergerak memberikan kontribusi bagi lingkungan hidup di Kabupaten Sampang. Baginya, aksi ini merupakan kelanjutan dari gerakan pelestarian yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan di Pantai Camplong sebagai komitmen jangka panjang organisasi.
“Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Justru dari keterbatasan, kita buktikan bahwa kepedulian itu nyata, bukan sekadar kata. Ini juga menjadi kelanjutan dari gerakan yang telah dimulai di Pantai Camplong,” tegasnya dengan penuh semangat.
Sebagai penutup, ia merinci jenis bibit yang ditanam meliputi pohon cemara untuk peneduh serta pohon produktif seperti jambu air, durian, dan alpukat yang diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomis bagi warga setempat. Aksi ini menjadi pengingat bahwa ketulusan dalam memulai dan ketekunan dalam menjaga adalah modal utama untuk memulihkan kembali wajah bumi yang mulai renta.
Editor : Taufik