Berita-compasnews.com, Probolinggo — Sebuah bangunan megah yang berdiri gagah di salah satu Pondok Pesantren ternama di Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, kini menjadi sorotan tajam publik. Bangunan yang diduga berasal Dana Hibah Jatim melalui Anwar Sadad itu diduga kuat dibangun sekitar tahun 2019, tepat di rentang waktu yang kini tengah diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan penyelewengan dana hibah Jawa Timur periode 2019–2022. Gedung megah tersebut diabadikan dengan nama salah satu tersangka kasus dugaan dana hibah Jatim Anwar Sadad yang kini menjabat sebagai anggota legislatif DPR RI dari partai Gerindra.
Meski berbalut nuansa religius dan berdiri di lingkungan pesantren, aroma kepentingan dan jejak aliran dana publik terendus jelas di balik tembok megah itu. Informasi yang diterima tim investigasi menyebutkan bahwa sumber pendanaan pembangunan gedung tersebut tidak berasal dari kas pesantren, melainkan mengalir dari dana hibah yang diduga “disulap” melalui jalur politik .
Pihak awak media telah berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada salah satu pengasuh Pondok Pesantren tempat bangunan itu berdiri, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi. Sunyi , Seolah semua pihak memilih menutup rapat mulut di tengah riuhnya dugaan penyimpangan yang mulai mengemuka.
Di sisi lain, Presiden LSM GAPKM APKM(Gerakan aktivis pelayanan kesejahteraan masyarakat), Juned st, angkat bicara dengan gaya khasnya yang tajam dan tak berkompromi terhadap aroma busuk korupsi, 16/10/2025.
“Kalau benar bangunan itu dibangun dari dana hibah yang menyimpang dari aturan , maka ini bukan sekadar pelanggaran hukum , ini penghinaan terhadap nurani! Jangan berlindung di balik jubah agama untuk menutupi dosa korupsi. Kita bicara soal moral, bukan sekadar pasal!” tegas Juned st dengan nada menggelegar.
Juned st menambahkan, dugaan ini bisa menjadi pintu masuk besar bagi KPK untuk membongkar “ijon” Fee hibah Jawa Timur yang selama ini terbungkus rapi dalam topeng kegiatan sosial dan keagamaan.
“Jangan salah, modus seperti ini sudah sering terjadi. Bangun gedung di pesantren, pakai bendera agama, tapi uangnya dijadikan Bancaan oleh oknum-oknum yang hanya memperkaya diri bukan menghidupkan pesantren tapi hidup dari pesantren" , Tegasnya.
" KPK jangan hanya berhenti penyelidikan dana hibah melalui pokmas, tapi harus menyelidiki dana yang mengalir deras ke ponpes atau yayasan yang nilainya sangat fantastis lebih besar yang mengalir melalui pokmas dengan potongan fee diduga sebesar 40 % sehingga harus dibongkar sampai ke akar-akarnya,” Tandasnya.
Tambahnya lagi, " Jangan salah tafsir , yang Kami persoalkan bukan Ponpesnya, tapi aliran dananya berasal darimana dan bagaimana prosesnya. Kami tidak ingin kejadian yang terjadi disalah satu Ponpes di Sidoarjo yang lagi viral karena roboh menimpa santri terulang lagi di Probolinggo, Justru Kami bersuara untuk berusaha menjaga marwah Ponpes ".
Publik menunggu langkah nyata dari KPK untuk menyelidiki gedung megah yang menjulang di tengah santri dan kitab suci itu akan menjadi saksi bisu kebusukan moral pejabat yang rakus atau justru akan menjadi simbol baru bahwa kebenaran bisa terkubur rapi di bawah genteng bergaya islami.
Redaksi
Editor : Badwi