Berita-compasnews.com, Probolinggo - Gelombang amarah rakyat Jawa Timur kini bergulung bagai badai tak terbendung. Kasus dugaan korupsi dana hibah Jatim yang menyeret 17 orang tersangka bukan lagi sekadar perkara hukum, tapi telah menjelma menjadi luka nurani bangsa. Rakyat yang selama ini diam, kini mulai bersuara lantang , 'ayunkan Tongkat Musa!' Hancurkan para penjarah uang rakyat yang bersembunyi di balik jubah kesucian dan senyum penuh kepalsuan lingkaran kuat kekuasaan.
Seperti dalam kisah agung masa silam, ketika Musa mengangkat tongkatnya untuk membelah lautan dan menenggelamkan para penindas, kini rakyat menantikan keajaiban serupa. Bedanya, yang dihadapi bukan Firaun Mesir, melainkan “Firaun-Firaun modern” yang merampas dana hibah dan menindas rakyat kecil dengan wajah teduh dan lidah manis. Mereka bicara amanah di mimbar, tapi tangannya sibuk menghitung hasil rampokan di bawah meja.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini berada di ujung tanduk kepercayaan publik. Lembaga yang dulu dianggap suci dan tegas kini ditunggu keberaniannya untuk unjuk kekuatan mengayunkan “Tongkat Musa”, atau justru membiarkan ular-ular kekuasaan terus menari di atas tubuh keadilan yang sekarat. Rakyat tidak butuh alasan, tidak perlu janji tetapi aksi nyata , 'jemput paksa, tangkap, dan tahan seluruh tersangka tanpa pandang bulu!' , meskipun kita juga menghormati hak konstitusional warga negara yang mengajukan pra peradilan yang diajukan oleh salah satu tersangka.
“Tongkat Musa” kini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap kezaliman yang membusuk. Ia bukan sekadar metafora, tapi panggilan moral dan spiritual untuk menegakkan kebenaran di tengah dunia yang dipenuhi topeng dan tipu daya. Bila tongkat itu benar-benar diayunkan oleh tangan-tangan berani, maka benteng kekebalan hukum yang selama ini melindungi para koruptor akan runtuh bagai tembok rapuh diterpa badai.
Presiden Gerakan Aktivis dan Pelayan Kesejahteraan Masyarakat (G-APKM), Juned ST, menjadi salah satu suara paling lantang yang mengguncang meja kekuasaan. Ia menyebut bahwa “Tongkat Musa” bukan hanya simbol keimanan, tapi senjata keadilan yang akan memporak-porandakan 17 tersangka yang bersembunyi di balik dalil agama dan pengaruh politik, khususnya Anwar Sadad dan Mahrus.
“Mereka ini bukan hanya koruptor, tapi perusak moral bangsa. Mereka mengkhianati rakyat, menipu generasi muda, dan memperjualbelikan kesucian untuk kekuasaan. Kalau KPK tak berani mengayunkan tongkat Musa itu, maka G-APKM yang akan mengayunkannya!” Tegas Juned dengan nada membakar.
Juned menegaskan, jika KPK tak sanggup, Tongkat Musa akan sepenuhnya berpindah ke tangan rakyat.
“Tongkat ini adalah amanah rakyat Indonesia, khususnya Jawa Timur. Kami akan memporak-porandakan para tersangka itu dengan cara yang belum pernah terpikirkan oleh siapa pun di negeri ini, bahkan di dunia. Bila Tongkat Musa menunjukkan keajaibannya, maka seluruh jaringan mafia dan koruptor akan lenyap bagai debu diterpa badai keadilan,” Ujarnya lantang.
Ia percaya, saat tongkat itu diayunkan, maka bukan hanya para tersangka yang akan jatuh, tapi seluruh sistem gelap yang menopang mereka akan ikut runtuh.
“Ketika tongkat itu menghantam tanah, ular-ular kekuasaan akan tertelan. Dari reruntuhan sistem busuk itu, akan lahir peradaban baru , peradaban tanpa korupsi, tanpa kebohongan, tempat Indonesia emas dan generasi emas berdiri tegak,” Tutur Juned penuh keyakinan.
Seluruh mata tertuju pada KPK sebagai lembaga antirasuah itu berani mengangkat Tongkat Musa dan menghantam 17 tersangka korupsi dana hibah Jatim dengan kekuatan hukum dan moral yang sejati ataukah justru rakyat bersama G-APKM yang akan mengayunkannya, menggulung kezaliman hingga tak bersisa.
Yang pasti, ketika Tongkat Musa benar-benar diangkat, tak ada kebusukan yang bisa bersembunyi lagi.
Redaksi
Editor : Badwi